
Alkisah di suatu negara bernama Indonesia, terseliplah satu provinsi miskin berjuluk Nasib Tak Tentu alias Nanti Tuhan Tolong alias NTT. Meski miskin provinsi ini punya ibukota yang mentereng: Kupang, kota karang yang kaya dengan bangunan megah milik pemerintah dan pengusaha, termasuk sebuah pusat belanja modern lambang kemajuan metropolis.
Tidak jauh dari ibukota yang selalu diterangi lampu di darat maupun dari lautan itu (meskipun sekarang krisis bahan bakar sedunia), hidup seorang anak perempuan berumur 3 tahun bernama Lusi dengan kedua orangtuanya serta 4 saudaranya. Rumah mereka terletak di Kampung Hasus, di salah satu muara di teluk Kupang yang indah. Tapi muara itu telah lama rusak oleh penambangan pasir dan rumah Lusi hanya tinggal tunggu waktu untuk ikut tergerus arus abrasi. Maklum penambangan itu makin menghabiskan pantai dan bakau. Tempat bermain Lusi pun makin sempit.
Tapi meskipun tempat bermain masih luas, Lusi sudah tak berminat lagi untuk ikut bergembira bersama saudara dan temannya. Sudah sebulan ini Lusi menghabiskan waktu di rumah saja. Tubuhnya kurus dan lemas, namun perutnya besar dan berbunyi ‘tong-tong-tong’ karena kosong. Orangtuanya, Boby dan Ima, sebenarnya tahu ada masalah dengan anaknya yang ketiga itu. Tapi mereka terlalu sibuk mengejar waktu panen, karena orang kaya pemilik sawah tempat mereka bekerja mewajibkan mereka untuk segera menyetor hasil panen, kuatir jika terjadi banjir lagi dan merusakkan empat hektar bidang sawah yang belum hancur oleh banjir. Sebulan sebelumnya terjadi banjir dan 1 hektar terendam habis dan rusak. Lusi yang sakit itu terpaksa diasuh oleh kakak sulungnya Eti yang baru berusia 6 tahun. Nenek, kakek, paman dan bibinya semua sibuk bekerja di sawah yang sama. Semua orang dewasa dalam keluarga Lusi memang bekerja sebagai buruh tani pada Bapak Bos, pemilik sawah.
Sebenarnya keluarga Lusi tidak berasal dari Kampung Hasus. Pada tahun 1974 bersama belasan orang dari Rote dan Sabu Kakek dan Nenek Lusi pindah ke muara itu dan mendirikan Kampung Hasus. Kepindahan mereka disebabkan oleh daya tarik proyek persawahan besar di sekitar muara itu. Pemerintah daerah dengan dukungan program dan dana nasional memutuskan untuk mengganti ratusan hektar padang lontar dengan sawah basah. Di tingkat global (dunia) dalam bahasa inggris program itu dikenal dengan nama Green Revolution dan pemerintah pusat menyebutnya program Revolusi Hijau, membuat Bimas dengan sub-program subsidi terhadap pupuk, memberi kredit pertanian, menetapkan harga dasar gabah, mendirikan Bulog, membangun irigasi dari pinjaman luar negeri, mengkampanyekan bibit yang seragam dengan iming-iming “bibit unggul”, hingga penyuluhan-penyuluhan untuk mensukseskan keseluruhan program. Program besar dengan ribuan proyek di seluruh nusantara ini kemudian terbukti gagal memacu pertumbuhan di sektor pertanian tanaman pangan, namun jalur irigasi panjang terlanjur mengubah alur sungai: tiap tahun terdengar berita bencana banjir, termasuk di Kampung Hasus, akibat penebangan pohon, tertumpuknya lumpur dan sampah di bendungan hingga hujan besar datang dan mendorong semuanya ke tengah sawah lewat banjir. Tidak hanya itu, bibit seragam yang katanya unggul dan dikembangkan di Jawa bahkan di luar negeri itu, ternyata tidak tahan terhadap hama sehingga kerap menggagalkan panen.
Pernah Kakek Lusi bercerita bahwa pemilik sawah tidak suka jika panenan merugi. Ia juga tidak suka jika harus membayar lebih banyak tiap tahun untuk membeli pestisida dan insektisida (racun hama), sehingga tiap kali terjadi kegagalan panen, buruh tani seperti keluarga Lusi harus berusaha keras supaya Bapak Bos tidak mengurangi upah mereka dengan alasan-alasan seperti kenaikan harga pupuk dan lain-lain. Tapi usaha mereka lebih sering gagal, itulah sebabnya, setiap musim tanam juga musim panen, upah yang diterima keluarga Lusi habis untuk membayar utang sebelumnya. Mereka tidak bisa minta tolong pada tetangga, karena semua keluarga di Kampung Hasus juga hidup seperti Keluarga Lusi. Makan dari utang, hidup di atas tanah yang bukan milik mereka dan tidak punya modal apapun kecuali tenaga untuk bekerja sebagai buruh tani bagi orang-orang kaya pemilik sawah.
Setiap kali terlilit utang Kakek Lusi hanya bisa mengenang kisah nostalgia di tanah asalnya ketika ia punya sebidang tanah yang ditanami sorgum, jagung, ubi kayu, ubi jalar, labu, pepaya dan pisang. Lontar juga tumbuh di sana, memberi susu pada anak-anak dalam bentuk gula air yang lezat dan bergizi tinggi. Kakek dan orang tuanya (Buyut Lusi) makan dari hasil panen kebun mereka sendiri. Hingga tibalah berita itu: proyek pertanian sawah besar-besaran membutuhkan tenaga kerja yang telah terbiasa dengan pola pertanian sawah. Kakek Lusi ikut mengadu nasib, bekerja sebagai buruh tani, menikahi sesama buruh dan memiliki anak perempuan yang lalu bekerja juga sebagai buruh tani, menikahi sesama buruh dan melahirkan Lusi yang malang. Disebut malang karena ia lahir dalam kondisi yang sangat berbeda dari masa lalu kakek. Sekarang orang dewasa harus kerja keras untuk mendapat hanya lima puluh ribu lebih perbulannya. Uang itu dipakai untuk membeli kembali beras yang berasal dari padi yang mereka tanam, sayur, sandang, dan lain-lain keperluan 6 orang dewasa dan 5 anak. Tidak pernah ada sisa uang untuk ke dokter. Jika ada yang sakit maka dibiarkan saja sampai sembuh sendiri.
Begitulah cerita selengkapnya sampai Lusi yang sakit pun terpaksa dibiarkan. Sakitnya terus bertambah parah, karena kondisi tubuhnya yang kekurangan gizi. Suatu hari Eti memberinya minum air yang tidak dimasak, tak lama Lusi mulai mengerang, ia muntah dan mencret beberapa kali dalam sehari. Tiga hari kemudian, mencretnya disertai darah. Ibu Lusi hanya bisa menggendongnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Ayahnya berusaha mencari pinjaman, tapi tak dapat. Kakak dan adiknya mulai sering menangis karena orang-orang dewasa mudah sekali marah karena berkurangnya tenaga kerja di sawah berarti berkurangnya penghasilan, berkurangnya penghasilan saat ini berarti utang yang tak terbayar dan utang yang lebih besar lagi bulan depan. Sementara kondisi Lusi yang malang terus dan terus memburuk...
(
Lusi bukan nama sebenarnya, tapi kisahnya juga dialami ratusan anak lain di NTT)