Friday, September 22, 2006

Black Ribbon for the Death of Justice

Akhirnya Tibo, Marinus dan Dominggus , mati dibunuh oleh Satuan regu Tembak Brimob Polda Sulteng.



Mungkin dunia menertawakan semua orang yang membela kehidupan mereka;

Mungkin dunia menertawakan Paus yang tidak lagi punya pengaruh, karena
suratnya dengan gampang diabaikan oleh pemerintah Indonesia.

Mungkin dunia juga menertawakan KWI karena puluhan Uskup Indonesia itu
juga tidak punya pengaruh apa-apa terhadap pemerintah Indonesia.

Mungkin dunia juga menertawakan kawanan kecil Gereja Indonesia yang
kerapkali gagap merumuskan jati dirinya di tengah kerumunan serigala yang
mengancam.

Mungkin dunia menertawakan kita dan berharap agar suara kita tidak lagi
kedengaran lantang dan menjadi serak karena terjebak dalam kebuntuan
sejarah.

Mungkin pula dunia ingin agar kita bisa lebih rajin menunduk dan
meminta maaf atas nama sopan santun dan kerukunan. Mungkin dunia menginginkan
semua ini ?

Entahlah.......

Kendati demikian sedikitpun tidak ada keraguan bahwa :

Mereka yang memperjuangkan Keadilan tidak akan pernah kalah dalam
perjuangannya. Karena mereka tidak berjuang untuk sebuah kekalahan atau
kemenangan menurut ukuran dunia- walau karena itu seluruh dunia
menertawakannya.

Melainkan mereka berjuang karena rasa cinta dan kesetiaan yang terikat
kepada Keadilan itu sendiri, apapun resikonya.
Kesetiaan itu sendiri adalah sebuah kemenangan yang tidak dikenal oleh dunia.
Dan inilah saat yang paling indah untuk bersaksi tentang kesetiaan itu.

Dengan penuh cinta dan hormat .......
Selamat jalan Tibo, Marinus dan Dominggus.
Terimakasih atas kesaksian imanmu yang sederhana.
Karena melalui penderitaan kalian Gereja belajar menjadi lebih jujur
dalam meletakan keberpihakannya yang sejati.


Roma, 22 September 2006
RD Leo Mali

Tuesday, August 29, 2006

untuk adhi

kamu di mana Dhi? di sini banyak amarah, ketakutan dan kesibukan berubah menjadi kepenatan luar biasa. sesak rasanya di dada.

baru saja kami menjadi saksi atas janjinya, si laki-laki pengecut itu. tadi ia telah berjanji di depan sahabat kita: ia akan mengantar sahabat kita pulang, menemui orang tuanya, bertanggung jawab atas kehidupan yang kini tengah bertumbuh dalam rahimnya dan tak akan membiarkannya menanggung semua penghakiman yang menanti di hari depan, sendiri. tentu saja tak kami percayai ia begitu saja. kita semua tahu, ia cuma pecundang yang sedang berusaha lari dan sembunyi. mengepit ekornya (baca: thing that should be cursed into an impotent phallus) dan pergi diam-diam. kembali ke tempat asalnya. tempat di mana semua kejahatan lamanya telah terkubur bersama puing-puing kehancuran kota dan yang tersisa cuma sekumpulan orang dengan perut lapar: rela bekerja sama dengan penjahat manapun demi rasa kenyang. tentu saja kami tahu itu.

kamu tak perlu ragu Dhi' di sini kami menyiapkan sebuah jalan yang tampak tak berbatu, untuknya. semoga hingga tiba kapal itu di labuhan depan rumah sahabat kita, tak kan disadarinya cadas yang telah tahunan dibangunnya, masih ada di situ. semua tumpukan kemarahan kita atas kepengecutannya. atas ingkarnya yang pernah menyudutkan sahabat kita pada suatu rasa nan purba: bahwa terlahir sebagai perempuan itu hina.

kita pernah berjam-jam membahasnya. antara mensyukuri keterlindungan kita hingga mengutuki ketidakadilan bodoh yang terus membatu, mengkristal dalam kepala-kepala lelaki: tak hanya si pecundang ini saja, tapi juga sejumlah besar lelaki lain yang pernah kita temui: dalam keseharian, dalam catatan, dalam hafalan. all the (claimed to be) owners of this manly world. meski tak lelah-lelah bumi ini mengajarkan ritus hidupnya dalam rupa siklus hidup perempuan (sesungguhnya jika saat itu benar-benar kuikuti saranmu untuk menuliskan sesuatu untuk perhelatan besarmu di sana, mungkin refleksi itulah yang akan jadi tulang belakang keseluruhan catatanku--tapi untungnya juga aku tidak, karena salah satu dari kita mesti tinggal untuk membantu sahabat kita meneriaki dan menahan langkah seribu maling pengecut itu).

sungguh, di bentuk kecil dunia yang itu, aku membutuhkan sesi tukar pikiran kita, yang penuh gelak tawa, penuh gosip sekaligus kehati-hatian sebab oleh suatu cara pandang cara bicara kita sangat mungkin digolongkan sebagai hasutan...

(maaf aku menuliskan sebuah surat terbuka untuk kamu Dhi' saat menuliskannya aku hanya berpikir, mungkin di suatu tempat, suatu masa, surat ini dapat mengajarkan kita sesuatu)

republish the republic (part 1)

nothing's more deceit than a true hope turned into a blank answer.
i've learnt that too damn well: reality ain't sweet and life is too bitchy for a half-empty-glass thinker.
still i'm writing my pain out, as i speak it out loudly in silence.
not voiceless, but audienceless.
for we all doomed: entangled with pictures, words, news, crashes, bombs, bleeding-cut-out-legs of a 9 year old girl while most people keep buying lies from a list of top-ten-foolishness-as-seen-on-TV (check out the blog of note fireflies in the cloud--you won't find the answer, but sure you'll find the picture of the doom).

by the way, some of the ads are no longer relevant to the US, but those junks are still sold and consumed here in asia.

so, do you still think you're safe??? maybe you should start to wonder if you still have brain inside your head...

Thursday, August 24, 2006

are you there and read??



Alkisah di suatu negara bernama Indonesia, terseliplah satu provinsi miskin berjuluk Nasib Tak Tentu alias Nanti Tuhan Tolong alias NTT. Meski miskin provinsi ini punya ibukota yang mentereng: Kupang, kota karang yang kaya dengan bangunan megah milik pemerintah dan pengusaha, termasuk sebuah pusat belanja modern lambang kemajuan metropolis.

Tidak jauh dari ibukota yang selalu diterangi lampu di darat maupun dari lautan itu (meskipun sekarang krisis bahan bakar sedunia), hidup seorang anak perempuan berumur 3 tahun bernama Lusi dengan kedua orangtuanya serta 4 saudaranya. Rumah mereka terletak di Kampung Hasus, di salah satu muara di teluk Kupang yang indah. Tapi muara itu telah lama rusak oleh penambangan pasir dan rumah Lusi hanya tinggal tunggu waktu untuk ikut tergerus arus abrasi. Maklum penambangan itu makin menghabiskan pantai dan bakau. Tempat bermain Lusi pun makin sempit.

Tapi meskipun tempat bermain masih luas, Lusi sudah tak berminat lagi untuk ikut bergembira bersama saudara dan temannya. Sudah sebulan ini Lusi menghabiskan waktu di rumah saja. Tubuhnya kurus dan lemas, namun perutnya besar dan berbunyi ‘tong-tong-tong’ karena kosong. Orangtuanya, Boby dan Ima, sebenarnya tahu ada masalah dengan anaknya yang ketiga itu. Tapi mereka terlalu sibuk mengejar waktu panen, karena orang kaya pemilik sawah tempat mereka bekerja mewajibkan mereka untuk segera menyetor hasil panen, kuatir jika terjadi banjir lagi dan merusakkan empat hektar bidang sawah yang belum hancur oleh banjir. Sebulan sebelumnya terjadi banjir dan 1 hektar terendam habis dan rusak. Lusi yang sakit itu terpaksa diasuh oleh kakak sulungnya Eti yang baru berusia 6 tahun. Nenek, kakek, paman dan bibinya semua sibuk bekerja di sawah yang sama. Semua orang dewasa dalam keluarga Lusi memang bekerja sebagai buruh tani pada Bapak Bos, pemilik sawah.

Sebenarnya keluarga Lusi tidak berasal dari Kampung Hasus. Pada tahun 1974 bersama belasan orang dari Rote dan Sabu Kakek dan Nenek Lusi pindah ke muara itu dan mendirikan Kampung Hasus. Kepindahan mereka disebabkan oleh daya tarik proyek persawahan besar di sekitar muara itu. Pemerintah daerah dengan dukungan program dan dana nasional memutuskan untuk mengganti ratusan hektar padang lontar dengan sawah basah. Di tingkat global (dunia) dalam bahasa inggris program itu dikenal dengan nama Green Revolution dan pemerintah pusat menyebutnya program Revolusi Hijau, membuat Bimas dengan sub-program subsidi terhadap pupuk, memberi kredit pertanian, menetapkan harga dasar gabah, mendirikan Bulog, membangun irigasi dari pinjaman luar negeri, mengkampanyekan bibit yang seragam dengan iming-iming “bibit unggul”, hingga penyuluhan-penyuluhan untuk mensukseskan keseluruhan program. Program besar dengan ribuan proyek di seluruh nusantara ini kemudian terbukti gagal memacu pertumbuhan di sektor pertanian tanaman pangan, namun jalur irigasi panjang terlanjur mengubah alur sungai: tiap tahun terdengar berita bencana banjir, termasuk di Kampung Hasus, akibat penebangan pohon, tertumpuknya lumpur dan sampah di bendungan hingga hujan besar datang dan mendorong semuanya ke tengah sawah lewat banjir. Tidak hanya itu, bibit seragam yang katanya unggul dan dikembangkan di Jawa bahkan di luar negeri itu, ternyata tidak tahan terhadap hama sehingga kerap menggagalkan panen.
Pernah Kakek Lusi bercerita bahwa pemilik sawah tidak suka jika panenan merugi. Ia juga tidak suka jika harus membayar lebih banyak tiap tahun untuk membeli pestisida dan insektisida (racun hama), sehingga tiap kali terjadi kegagalan panen, buruh tani seperti keluarga Lusi harus berusaha keras supaya Bapak Bos tidak mengurangi upah mereka dengan alasan-alasan seperti kenaikan harga pupuk dan lain-lain. Tapi usaha mereka lebih sering gagal, itulah sebabnya, setiap musim tanam juga musim panen, upah yang diterima keluarga Lusi habis untuk membayar utang sebelumnya. Mereka tidak bisa minta tolong pada tetangga, karena semua keluarga di Kampung Hasus juga hidup seperti Keluarga Lusi. Makan dari utang, hidup di atas tanah yang bukan milik mereka dan tidak punya modal apapun kecuali tenaga untuk bekerja sebagai buruh tani bagi orang-orang kaya pemilik sawah.

Setiap kali terlilit utang Kakek Lusi hanya bisa mengenang kisah nostalgia di tanah asalnya ketika ia punya sebidang tanah yang ditanami sorgum, jagung, ubi kayu, ubi jalar, labu, pepaya dan pisang. Lontar juga tumbuh di sana, memberi susu pada anak-anak dalam bentuk gula air yang lezat dan bergizi tinggi. Kakek dan orang tuanya (Buyut Lusi) makan dari hasil panen kebun mereka sendiri. Hingga tibalah berita itu: proyek pertanian sawah besar-besaran membutuhkan tenaga kerja yang telah terbiasa dengan pola pertanian sawah. Kakek Lusi ikut mengadu nasib, bekerja sebagai buruh tani, menikahi sesama buruh dan memiliki anak perempuan yang lalu bekerja juga sebagai buruh tani, menikahi sesama buruh dan melahirkan Lusi yang malang. Disebut malang karena ia lahir dalam kondisi yang sangat berbeda dari masa lalu kakek. Sekarang orang dewasa harus kerja keras untuk mendapat hanya lima puluh ribu lebih perbulannya. Uang itu dipakai untuk membeli kembali beras yang berasal dari padi yang mereka tanam, sayur, sandang, dan lain-lain keperluan 6 orang dewasa dan 5 anak. Tidak pernah ada sisa uang untuk ke dokter. Jika ada yang sakit maka dibiarkan saja sampai sembuh sendiri.

Begitulah cerita selengkapnya sampai Lusi yang sakit pun terpaksa dibiarkan. Sakitnya terus bertambah parah, karena kondisi tubuhnya yang kekurangan gizi. Suatu hari Eti memberinya minum air yang tidak dimasak, tak lama Lusi mulai mengerang, ia muntah dan mencret beberapa kali dalam sehari. Tiga hari kemudian, mencretnya disertai darah. Ibu Lusi hanya bisa menggendongnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Ayahnya berusaha mencari pinjaman, tapi tak dapat. Kakak dan adiknya mulai sering menangis karena orang-orang dewasa mudah sekali marah karena berkurangnya tenaga kerja di sawah berarti berkurangnya penghasilan, berkurangnya penghasilan saat ini berarti utang yang tak terbayar dan utang yang lebih besar lagi bulan depan. Sementara kondisi Lusi yang malang terus dan terus memburuk...

(Lusi bukan nama sebenarnya, tapi kisahnya juga dialami ratusan anak lain di NTT)

Wednesday, August 16, 2006

An Old (mailed) Poem

Semalam, dari antara tumpukan barang di gudang, kutemukan satu puisi lama. Sama sekali tak bersentuhan dengan apapun yang kukerjakan saat ini. Puisi itu begitu berjarak. Menyiratkan kesendirian yang tua, lelah oleh rasa sepi. Ku ingat-ingat nuansa hari saat puisi itu kutuliskan: pergantian malam menuju pagi 9 september 2003...dan aku menuliskan kegamanganku atas serangan berita koran juga TV di hari sebelumnya yang kemudian membentuk semacam tumpukan ingatan kumal di kepala. Membuatku tak kunjung lelap..lalu ku serakkan saja semuanya seperti ini:

Ceritakan padaku, apa yang kau simak hari ini
di lembaran koran pagi.
Adakah cerita lain tentang Acheh?
Usaikah tentangan yang membawa korban di Timika?
Atau mungkin seseorang mencoba menulis tentang duka seorang buta?
Aku sepenuhnya bergantung pada kotak yang kau sebut:
Tivi yang tak pernah mati.
Tapi di sana tak selalu kutemukan berita sehat.
Terkadang beberapa mayat membusuk ikut lewat.
Rekaan atau benar-benar rekaman
-mereka menyebutnya 'fakta'-
dari suatu perburuan yang kusebut buah:
dari kota yang tak pernah mati.

Kembali pada koran pagi, adakah berita untukku?
Tolong bacakan agar aku tak perlu lama menunggu.
Hingga sore tiba, selewat bermenit-menit menyimak
artis kita cerai lagi, diseling iklan obat kuat dan minyak wangi.
Lalu terjebak pada pengulangan berita pagi.
Potongan naskah yang sama--dalam suara yang berbeda.

Mengapa harus memakan waktu begitu lama
untukmu membuka tiap lembarnya dan mulai membaca?
Begitu beratkah permintaan ini?
Atau tak mampu lagi kau cerna maksud runutan kata
di bawah judul tertulis besar dan mengundang tanya?

Jika begitu, ke mana harus kutelengkan kepala?


Jika saja saat itu telah kutemukan tempatku. Di antara mereka yang berduka, bukan oleh berita koran atau sensasi gambar televisi, tapi oleh deraan musim yang pelit membawa jawab atas harap yang disemai dengan hati-hati. Atau oleh deraan tangan yang royal memberi sanksi atas perintah yang diteriakkan dengan penuh kuasa. Jika saja saat itu aku telah ada di sini, kira-kira apa yang dapat kutulis sebagai ganti puisi itu? Aku merasa getas untuk mulai menyeberangi waktu dan mencoba-coba mengubah yang telah terjadi, meski andai semata. Mungkin sebaiknya lain kali saja.

Wednesday, August 02, 2006

si baju hijau berkepala bawang (?)


sebut saja dia di baju hijau. tapi menambahi "berkepala bawang" pada julukannya adalah kejahatan. kejahatan atas bawang-bawang yang selama ini menghidupi saya, menghidupi anak-anak saya. si baju hijau tak pernah punya kebaikan sebanyak yang ditunjukkan bawang-bawang pada saya serta anak-anak saya dan seisi kampung saya serta kerabat-kerabat di kampung lain. sejak kami semua masih kecil kami mengenal bawang-bawang dari makanan kami, ramuan obat kami, uang sekolah kami, akad nikah kami, hingga penguburan nanti. semua didapat dari kebaikan bawang-bawang yang kami tanam, kami jual, kami masak, kami ramu. semua dari kebaikan bawang-bawang kami. hanya bawang-bawang kami. tapi si baju hijau itu?

si baju hijau itu datang ke sini atas nama "damai untuk semua". si baju hijau bilang kami telah mengangkangi setiap batas syarat perdamaian: kami berperang antar saudara, kami saling membunuh dan menyisakan hanya puing-puing gosong, lahan-lahan hancur hingga janda-janda yang tak pernah tahu kapan ratapan mereka akan berakhir. di pengungsian si baju hijau bilang begitu. di kampung halaman si baju hijau bilang begitu. dan pada perbatasan keduanya si baju hijau mendirikan rumahnya. di mana salah di baju hijau?

salahnya ada pada semua kebohongan yang digunakannya sebagai pembenar. salahnya ada pada jumawanya menegakkan diri sebagai penyelamat. sedang kami tak pernah tahu darimana datangnya api yang meluluhlantakkan kehidupan kami; sedang kami tak pernah tahu bagaimana menjelaskan arti "damai untuk semua"; sementara puing-puing akan tetap gosong jika kami tak bergotong-royong; sementara lahan-lahan akan tetap hancur jika kami tak berendam lumpur; sementara janda-janda akan tetap meratap--akan tetap meratap karena pada dua kerja yang pertama, si baju hijau tak pernah membantu. tapi pada soal yang ketiga si baju hijau adalah yang terutama rajin bergerak mempertahankan ratapan itu. bawang-bawang yang tak jadi datang padaku dapat menceritakan semua itu. bawang-bawang malang yang dirampas dari tangan janda-janda malang, bersamaan dengan tanah mereka...

lantas menambahi "berkepala bawang" padanya? sebagai pedagang bawang saya katakan hal itu sungguh-sungguh jahat!

Thursday, July 27, 2006

...menulis = mengupas kulit bawang


hari ini, akhirnya. setelah sekian lama menunda. setelah sekian lama berpikir untuk tidak. tidak menulis lagi. tidak mengupas lagi selapis tipis kulit bawang keluar...